Generalisasi atau Rasisme?


Saat ini bangsa Indonesia terus dilanda berbagai kemelut. Mulai dari bencana alam sampai dengan bencana kemanusiaan. Secara perlahan tapi pasti manusia mulai kehilangan rasa kemanusiaannya itu sendiri. Membunuh bukan lagi hal yang mengerikan, tapi sudah menjadi semacam kewajiban. Menyoroti hal tersebut, menurut hemat saya tidak lepas dari rasa ingin menguasai satu kelompok atas kelompok lain. Merasa kelompok sendiri lebih unggul dari kelompok lain.

Saat ini berkembang idiologi-idiologi yang terus mempengaruhi dunia perpolitikan dunia atau Indonesia pada khususnya. Lebih meruncing lagi ke arah persaingan kekuasaan antara idiologi-idiologi tersebut. Sebut saja Amerika Serikat, dengan jargon Hak Asasi Manusia (HAM) dan Demokrasi secara agresif terus menghantam dan menekan idiologi-idiologi yang bersebarang dengannya. Beberapa negara sudah nyata menjadi korban kedua jargon tersebut, yaitu Irak, Afganistan, Fakistan, dan yang sedang terus didesak dengan berbagai macam strategi adalah negara Repunlik Islam paling berpengaruh yaitu Iran.

Di pihak lain ada lagi idiologi yang sedang terus berusaha mengembalikan kejayaan masa lamapau, dengan bendera Laa ilaa ha illalloh Muhammdur rosuululloh, berusaha memasuki kembali ke setiap sendi-sendi pemerintahan. Para mujahid terus menerus menerikkan bahwa khilafah adalah satu-satunya solusi dari permasalahan yang sedang melanda bangasa ini. Di era demokrasi yang kebebasannya sudah melampau batas (menurut penulis) sudah tidak ada lagi yang bersifat tertutup. Semuanya transparan. Korupsi dilakukan secara transparan, maksiat perjudian dan prostitusi dibuka secara terang-terangan, bahkan idiologi yang berseberangan dengan pemerintahpun secara terbuka menyatakan peralwanannya.

Kembali pada persaingan kedua idiologi di atas. Menurut saya ada satu persamaan dari keduanya. Yaitu sama-sama ingin men-generalisasi faham kebangsaan di atas dunia ini. Amerika menginginkan semua bangsa di atas bumi ini melaksanakan system demokrasi dan menghargai Hak Asasi Manusia, meskipun Amerika Serikat sendiri jauh panggang dari pada api untuk melaksanakan kedua hal tersebut. Islampun demikian, menginginkan semua bangsa berlutut dan patuh di bawah panji-panji syariat Islam yaitu dalam bentuk negara khilafah.

Dua kekuatan besar ini terus bersaing. Kedua-duanya merasa lebih ungguh di banding dengan yang lainnya. Lalu pertanyaannya apa bedanya dengan idiologi faganisme? Fagan-pun demikian merasa lebih ungguh di banding selain dirinya. Karena ada keyakinan semacam ini, kemudian menganggap bahwa yang lain adalah buruk, maka harus di singkirkan atau dipaksa mengikuti kelompok yang dianggap terbaik. Eksesnya adalah peperangan, kekejaman, pembunuhan, pembantaian dan berbagai perbuatan sadis lainnya.

Pembantaian rakyat Palestina oleh Israel adalah bukti dari sikap merasa paling baik sendiri. Israel merasa sebagai ras unggul yang berhak menduduki bumi palestina, sehingga rakyat palestina harus dimusnahkan. Ribuan rakyat Irak menderita akibat dari kecongkakan Amerika Serikat yang merasa berhak menumbangkan rezim diktator dan menggantikannya dengan rezim demokrasi. Pun demikian ribuan nyawa tak berdosa melayang karena ambisi sebagian umat Islam yang menginginkan menguasai dunia.

Tujuan dari mereka adalah satu yang generalisasi idiologi. Melihat dari kejadian-kedjadian di atas, generalisasi ini tak ada bedanya dengan sistem rasisme. Yang menjadi korban adalah para kaum minoritas dan kaum lemah. Mereka tersingkirkan atau bahkan dibantai habis-habisan. Kenapa harus ada generalisasi? Kenapa tidak kita rawat dan jaga perbedaan ini dengan saling menghargai dan mengisihi satu sama lain. Bukankah dunia ini indah karena adanya perbedaan. Bayangkan apabila didunia ini hanya ada satu macam manusia, semuanya sama pakaiannya, sama bahasanya, sama cara kehidupannya, dan semuanya menjadi seragam. Ah… menurut saya dunia ini akan menjadi membosankan.

Tulisan ini hanya bentuk dari ekspresi kejiawaan yang merasa sedih sekaligus ngeri melihat setiap hari ada kekejaman dan pertikaian. Alangkah indahnya kalau kita bisa saling berdampingan dengan saling menghormati dan menjaga kehormatan. System pemerintahan apapun yang diterapkan, yang penting bisa memberikan manfaat kepada sumua umat tanpa harus membedakan golongan, warna kulit dan agama, pasti kita akan merasa betah bernaung di bawahnya. Sebagus apapun sebuah system, kalau akhlak para pemimpinnya masih buruk maka buruklah hasil dari pemerintahan. Akhir kata mohon maaf apabila tulisan ini bersebarangan dengan saudara-saudaraku yang lain, atau menyinggung perasaan dan melukai hati saudara-saudara. Demi Alloh yang menguasai Arasy, bukan itu maksud dari tulisan ini. Tulisan ini hanya bentuk ekspresi diri yang sudah sulit sekali untuk dibendung, yang tentunya bersumber dari segala macam kekurangan dan kelemahan. Kurang akan pemahaman ilmu dan pengetahuan, lemah dalam menancapkan iman di dalam dada. Semoga Alloh mengampuni. Amin.