Sumber Rizki Yang Halal


Seorang ayah hendak pergi mencari nafkah untuk anak istrinya. Ia kerjakan sholat dhuha 4 rakaat. Kemudian ia berpamitan pada keluarganya dengan mengucapkan salam. Tak lupa, sebelum melangkahkan kakinya iapun mengucapkan doa suci ke hadirat Illahi.

Di tengah perjalanan ia di sapa oleh dua orang lelaki dan dihampirinya. Terjadi percakapan :
Seorang Ayah    : Ada apa mas? Apa yang bisa saya bantu?
Lelaki asing       : Bapak hendak kemana?
Seorang Ayah    : Saya mau mencari nafkah untuk keluarga saya?
Lelaki Asing      : Apa yang akan bapak kerjakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga bapak?
Seorang ayah     : Pekerjaan apa saja yang penting halal, dan siapa saja yang membutuhkan tenaga saya, yang penting pekerjaan itu baik.
Lelaki asing       : Saya butuh tenaga bapak, dan saya akan memberikan imbalan yang layak untuk bapak. Bapak mau?
Seorang ayah     : Kerjaan apa itu?
Lelaki asing       : Kami berdua ini akan mencuri di rumah yang ada di seberang jalan itu. Bapak kami beri tugas mengawasi tempat sekitar, kalau ada orang segera kasih kode pada kami. Nanti bapak akan mendapat 1/3 hasil curian. Tugas bapak sangat mudah dan tidak butuh tenaga banyak, cukup berdiri di luar rumah dan mengawasi tempat sekitar.
Seorang ayah     : Bagaimana kalau kita ketahuan mencuri dan ditangkap polisi kemudian di penjara.
Lelaki asing       : Ah jangan khawatir kami sudah terlatih gak mungkin ketangkap, lagi pula dipenjara itu enak, semua serba gratis, kalau masalah keluarga juga jangan khawatir, mereka akan mendapatka rizkinya mereka sendiri meskipun tak ada kita di rumah.
Seorang ayah     : Betul apa katamu. Tapi saya tetap kasihan pada istri saya, nanti akan ada yang bilang suami si anu tukang maling, saya kasihan pada anak saya, nanti ada yang bilang ayahnya si anu adalah pencuri, saya kasihan pada orang tua dan mertua saya, nanti ada yang bilang anak dan menantu si fulan ternyata tukang maling, saya juga kasihan pada tetangga saya, ketika nanti saya pulang ke rumah mereka merasa akan tidak nyamana sebab ada saya di lingkungannya. Saudaraku, meskipun umpanya saya sudah terbiasa hidup dalam kegelapan dan kehinaan, tapi belum tentu mereka yang saya sebutkan tadi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya menolak ajakan kalian berdua.
Kemudian seorang ayahpun melanjutkan perjalanan mencari nafkah untuk keluarganya dengan tanpa terpengaruh bujuk dan rayuan dua lelaki tadi. Meski sulit mencari nafkah meski hanya untuk sesuap nasi, tapi dia jalani itu dengan hati penuh rasa cinta pada keluarganya.

Sore tiba malam datang menyambut menggantikan siang. Seorang ayah pulang ke rumahnya membawa kantong kresek hitam berisi beras yang hanya cukup untuk makan sekali, itupun belum tentu kenyang. Seorang ibu memasaknya dengan penuh rasa kasih sayang, dua bocah kecil menanti nasi matang dengan menahan rasa lapar yang sudah mereka rasakan sejak tadi siang. Nasipun matang, dan mereka makan dengan di awali doa sebagai rasa syukur mereka atas rizki yang sudah Alloh berikan pada mereka untuk makan pada waktu tersebut.

Ayah paruh baya itu melihat begitu lahapnya dua bocah itu makan nasi meskipun tanpa lauk pauk dan sayuran. Istrinya melihat anaknya kemudian melihat suaminya yang sedang mengamati anaknya. Butiran bening tampak jatuh dari pelupuk matanya yang indah.

Setelah selesai makan dan berdoa, ayah yang sholeh itu berkata “maafkan ayah nak, dan maafkan ayah juga bu, ayah tidak belum bisa memberi kalian yang lebih baik dari ini”. Istrinya berkata “ayah, ini adalah rizki terbaik yang Alloh berikan pada kita hari ini, maka syukurilah. Kami senang karena rizki ini halal dan di dapat dengan cara yang baik dan halal, kami bangga pada ayah, karena ayah tidak memberikan duri neraka pada kami”.

Ayah : “Subhanalloh….. maha suci engkau ya Alloh yang telah menciptakan hamba dengan akhlak sebaik ini, semoga engkau tetap menjaga kami dalam kebaikan dan kasih sayangmu”.