Indonesia Kurng Menghargai Ilmuwan

HTML clipboard
Indonensia kurang menghargai para ilmuwan, mungkin kalimat ini tepat sekali untuk Indoneisa saat ini. Hal ini terbukti dengan banyak para ilmuwan dan pakar asli Indonesia yang lebih memilih mengamalkan ilmunya di luar negeri dibanding di Indonesia. Mengenai kurangnya penghargaan Indonesia terhadap para ilmuwan juga diungkapkan oleh pakar jenius nanoteknologi dan optoelektronika asal Indonesia yang menjadi tenure-tracked Assistant Professor di Universitas Lehigh (Lehigh University) yaitu Prof. Nelson Tansu.


Karena kurang pengharagaan tersebutlah banyak ilmuwan Indonesia yang lebih memilih mengabdikan dirinya di luar negeri. Sebut saja salah satunya adalah Baharudin Yusuf Habibi, ahli mesin pesawat terbang, dia memilih mengamalkan ilmunuya di Jerman.


Selain itu ada juga Nelson Tansu, Profesor di bidang Electrical Engineering dan sebgai profesor termuda asal Indonesia yang sekarang lebih aktif mengamalkan ilmu di Amerika Serikat. 


Nelson Tansu lahir di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun.


Itulah dua tokoh jenius asli Indonesia yang kejeniusannya belum bisa sepenuhnya dimanfaatkan untuk memajukan Indonesia. Mungkin masih banyak lagi para ilmuwan dan pakar asli Indonesia yang saya tidak tahu. Atau mungkin ada ahli di bidang IT atau Teknologi Komputer yang berada di luar negeri. Apa sobat blogger ada yang tahu pakar IT asli Indonesia yang ada di luar negeri, tolong beri tahu saya dengan memberikan komentar di bawah ini.